Stop PSBB, Surabaya Masuk New Nekat

0
2062
Stop PSBB, Surabaya Masuk New Nekat
Stop PSBB, Surabaya Masuk New Nekat

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Surabaya Raya resmi berakhir hari ini, Senin (8/6/2020). Dan berdasarkan kesepakatan, tiga kepala daerah di wilayah Surabaya Raya serempak mengusulkan untuk tidak memperpanjang PSBB setelah tiga kali perpanjangan kepada Gubernur Jawa Timur.

Meski secara umum angka pasien terinfeksi virus corona masih cenderung meningkat di Surabaya, Sidoarjo, Gresik (Surabaya Raya, red), namun keputusan untuk tidak ada perpanjangan PSBB tetap dikemukakan oleh ketiga daerah tersebut.

Dan sebagai konsekuensinya, ketiga daerah tersebut bersepakat akan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat.

Karena itulah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pertemuan untuk mengevaluasi PSBB Surabaya Raya (Surabaya, Gresik, Sidoarjo) Jilid 3, memutuskan tidak ada perpanjangan PSBB di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo.

Stop PSBB, Surabaya Masuk New Nekat
Stop PSBB, Surabaya Masuk New Nekat

“Selanjutnya akan menjadi kewenangan kabupaten/kota. Jadi prosedurnya seperti itu. Masing-masing kepala daerah sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan dengan kearifan dan kebijakan lokal masing-masing,” terang Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Senin (8/6/2020).

Dalam pertemuan yang juga di hadiri Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Plt Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto serta jajaran Forkopimda Jatim ini, Khofifah mengimbau agar hasil telaah epidemiologi FKM Unair bisa dijadikan kewaspadaan bersama guna melakukan langkah intervensi se-signifikan mungkin, agar bisa memutus mata rantai Covid-19.

Disisi lain, perwakilan tim Advokasi PSBB dan Survailans FKM Unair, dr. Windhu Purnomo menjelaskan, pihaknya telah melakukan kajian bahwa data hingga 30 Mei 2020 tercatat PSBB ketiga di Surabaya Raya telah berhasil menurunkan rate of transmission (RT) dari 1,7 menjadi 1,1.

“Walaupun dalam pengamatan masih tercatat naik turun, namun secara optimis tercatat menurun dari awal penerapan PSBB. Dan jika dilihat dari RT-nya, Surabaya Raya kecenderungannya turun. Walau masih naik turun, namun optimistik menurun,” terang dr. Windhu Purnomo.

Sementara Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjelaskan pihaknya ingin PSBB Surabaya Raya tidak diperpanjang, karena mengkhawatirkan warganya yang banyak mengeluh karena sudah tidak bisa makan

“Tentu saya khawatir. Di beberapa area, warga sudah ngeluh, gak bisa makan. Kayak tukang-tukang yang punya anak istri apalagi masih sewa rumah,” terang Risma.

Meski demikian, Risma menyakinkan bahwa pihaknya akan mengatur protokol kesehatan secara detail. Pihaknya juga berharap masyarakat bisa melakukan aktivitas secara normal meski protokol kesehatan ditingkatkan.

“Draf perwali yang isinya adalah kami belum tahu nanti keputusannya apa transisi atau, tatanan normal baru. Kami sudah membuat draft, diskusinya adalah sama seperti Bupati Gresik. Karena kalau dilihat perbup/perwali, untuk sanksi tidak kami berikan kalau bukan perda. Peraturan yang kami buat adalah protokol di tempat-tempat kecil, di pasar, mal, warkop, minimarket, toko klontong,” jelas Risma.

“Kesimpulannya, kami tidak bisa memberi sanksi bentuknya perwali. Kalau merujuk pergub saat PSBB, maka kita bisa berikan sanksi,” pungkasnya.

Surabaya masuk New Nekat

Sementara itu, secara terpisah, Kepala Sekolah KB TK Al-Falah Surabaya, Rina Rahayu, S Psi, menilai bahwa bila Surabaya melakukan New Normal saat ini, maka itu merupakan tindakan yang terburu-buru dan bisa dikatakan sebagai New Nekat.

“Saya tentu tidak setuju, mengingat saat ini belum tepat untuk melakukan New Normal dan terlalu terburu-buru. New normal kan ada standartnya. Salah satu kekuatiran yang paling jelas adalah angka penularan yang masih cenderung meningkat,” ujarnya.

Surabaya, lanjutnya, kalau mau menerapkan New Normal itu susah, karena New Normal bukan cuma aturan yang dibikin, tapi juga perlu kedisplinan warganya.

“Sementara warganya saja masih bandel-bandel,” tambah Rina.

Sekalipun demikian, keputusan untuk menghentikan PSBB di Surabaya Raya, menurut sebagian besar masyarakat Surabaya dinilai tepat, supaya ekonomi masyarakat bisa bergerak lagi, meski dengan beberapa persyaratan pencegahan Covid-19.

“Yang penting kita bisa berusaha lagi. Meski harus ikut prosedur seperti pakai masker, cuci tangan atau pakai handsanitizer dan juga jaga jarak, tidak masalah. Yang penting kita bisa berusaha lagi,” jelasa salah seorang pedagang di Surabaya Barat. (JM01)