Pakuwon Group Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19 dan Physical Distancing Secara Ketat agar Tidak Ada Karyawan yang Dirumahkan

0
157
Penerapan Thermal imagine dan bukan lagi thermal gun di Tunjungan Plasa Surabaya

Surabaya, JATIMMEDIA.COM – Meningkatnya jumlah kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Surabaya, mendorong banyak pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Hal ini juga disadari oleh Pakuwon Grup yang memiliki beberapa pusat perbelanjaan modern di Surabaya.

Sebagai pusat perbelanjaan yang identik dengan banyaknya orang berkumpul, membuat Grup Pakuwon menerapkan protokol yang cukup ketat dalam menerapkan physical distancing  maupun langkah-langkah pencegahan seperti penyediaan tempat cuci tangan dan sabun, pengecekan suhu tubuh, serta wajib memakai masker bagi pengunjung.

Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi mengatakan, Pakuwon Group melakukan kebijakan penerapan kawasan wajib masker, dimana semua pengunjung pakuwon mall dan tunjungan plasa wajib mengenakan masker. Artinya tidak ada satu orangpun di dalam mall yang tidak pakai masker.

“Kalau ada pengunjung datang dan tidak menggunakan masker, mohon maaf, terpaksa tidak kami ijinkan masuk ke mall. Atau mereka bisa membeli masker yang kami jual eceran di pintu masuk. Tapi ini satu orang hanya boleh beli satu.” Terangnya pada jatimmedia.com di Tunjungan Plasa Surabaya, Senin (13/4/2020).

Suasana Mal Tunjungan Plasa yang relatif sepi pengunjung

Kenapa dilakukan hal ini, menurut Sutandi, karena dari awal Pakuwon Group sudah menerapkan Sterilizations chambers yang dipasang di setiap pintu mall. Dan yang kami pakai disini adalah desinfektan yang aman bagi kulit, seperti yang disarankan oleh dinas kesehatan pemerintah kota Surabaya.

“Bahkan kita sudah menerapkan Thermal imagine, dan bukan lagi thermal gun. Dan itu kalau ada suhu tubuh diatas 37,5 derajat, maka alarm akan berbunyi dan yang bersangkutan tidak boleh masuk kedalam mal dan akan kita river kepada puskesmas terdekat untuk didata dan dilakukan tindakan lebih lanjut,” tambahnya.

Selain itu, tambah Sutandi, penerapan Physical Distancing di setiap Mall juga diterapkan dengan ketat. Bahkan untuk outlet-outlet F&B tempat duduknya juga sudah dibagi2 sehingga jarak antara kursi lebih dari 1 meter.

“Bahkan untuk Foodcort, kami sudah dikurangi kursi dan meja hingga 50 persen sehingga memberikan ruang lebih luas untuk orang  tidak berinteraksi satu sama lain, sehingga tidak ada kontak fisik.

Sutandi juga menegaskan bahwa dengan penerapan protokol yang ketat ini maka semua Mall milik Pakuwon Group bukan lagi jadi daerah yang berbahaya. Apalagi pihaknya juga menerapkan agar pengunjung tidak bergeombol ketika berjalan di dalam mall dan harus jaga jarak.

“Dengan demikian kami berharap roda perekonomian meski terseok-seok tetap bisa berjalan. Karena di satu mall aja ada 5000 sampai 6000 orang karyawan. Seandainya mall itu tutup, maka akan ada 5000 sampai 6000 karyawan yang akan dirumahkan. Lalu bagaimana resiko ekonominya bagi mereka?,” terang Sutandi.

Keberadaan dan nasib karyawan yang bekerja di Mall ini bagi Sutandi, merupakan bagian dari moral obligation Pakuwon Mall, meski secara ekonomi sebenarnya dengan membuka mall yang sepi pengunjung adalah hal yang merugikan secara ekonomi.

“Paling gampang bagi kami adalah menutup mall karena secara ekonomi tidak menguntungkan bagi kami untuk tetap buka. Namun nasib karyawan di mall ini merupakan beban moral yang harus kita pikirkan dan kita tanggung. Karena itu kami menerapkan semua protokol pencegahan dengan sangat ketat, agar orang tidak lagi takut untuk datang ke mall” pungkasnya. (JM01)