Indonesia Paling Tinggi Soal Parental Control

0
12
Parental Control (istimewa)

Jakarta, JATIMMEDIA.COM – Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, Snapchat adalah sebagian dari daftar platform media sosial yang terus bertambah setiap waktu. Dengan ketersediaan smartphone, tablet, laptop, dan desktop yang mudah, tidak mengherankan banyak anak-anak menghabiskan waktu mereka untuk kegiatan online.

Semakin intens anak beraktivitas di internet maka semakin besar pula kemungkinan mereka mengakses berbagai konten yang tidak pantas, mulai dari pornografi sampai konten berbahaya yang mengandung radikalisme dan terorisme. Atau bahkan yang berhubungan dengan privasi dan keamanan finansial keluarga.

Pencegahan selalu menjadi konsep utama dalam memberikan perlindungan terhadap anak, konsep ini yang menjadi poin penting dalam Parental Control. Dan berbicara mengenai parental control berarti bicara peran orangtua berinteraksi dalam kehidupan dunia maya anak-anaknya.

Orangtua diajak berperan untuk lebih pro-aktif melindungi anak saat beraktivitas di internet tanpa anak merasa diintervensi oleh orangtuanya. Karena tanpa pengawasan yang tepat, anak-anak bisa menempatkan diri mereka sendiri dan keluarga mereka dalam bahaya.

Indonesia Paling Tinggi Soal Parental Control

Namun ternyata, kesadaran orangtua untuk memberikan proteksi yang layak pada anaknya tidak dilakukan dengan maksimal, hal ini diketahui dari studi yang dilakukan ESET di kawasan APAC atau Asia Pasifik, dimana dari temuan survei ESET mengungkapkan bahwa hanya 29% responden yang menerapkan Parental Control pada perangkat yang digunakan anak-anak mereka.

Temuan ini juga mengungkapkan bahwa 29% responden juga memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk mengunduh program dan aplikasi sendiri.

FitzGerald, peneliti Senior ESET mengatakan, peran Parental Control harus lebih diperkuat, terutama dengan munculnya keterlibatan sosial atau platform konten. Di usia muda, keingintahuan seorang anak harus dipupuk dan dilindungi. Karena itu, kontrol orang tua dalam memfilter aksesibilitas ke kemungkinan konten terlarang yang mungkin berdampak negatif pada anak-anak menjadi penting,” terangnya.

Kontrol orangtua, lanjut FitzGerald, juga secara tidak langsung mengajarkan anak-anak nilai uang ketika membeli barang secara online.

“Ini adalah pelajaran berharga bagi anak-anak untuk dipelajari di usia muda, untuk memastikan bahwa mereka tidak menerima pembelian online begitu saja,” lanjut FitzGerald.

Selain Parental Control, orang tua sendiri juga harus bertanggung jawab atas aktivitas anak-anak mereka saat online. Apalagi dari hasil survei APAC, hanya 36% responden yang melakukannya dengan memantau aktivitas anak saat menggunakan perangkat pintar mereka.

“Studi ini menunjukkan kurang perhatiannya orangtua terhadap aktivitas online anak, padahal di titik ini orangtua harus punya andil lebih banyak dalam mengawasi anak. Usia muda adalah usia yang sangat krusial,” jelas FitzGerald.

Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi Indonesia, karena dari responden yang mengikuti survei, sebanyak 72% sepakat jika mereka harus mengawasi aktivitas online anak. Dengan demikian orangtua di Indonesia adalah yang paling protektif terhadap keamanan anak di kawasan Asia Pasifik.

“Ini sejalan dengan temuan sebelumnya di mana 56% responden Indonesia menggunakan Parental Control untuk perangkat anak,” tambahnya.

FitzGerald juga menegaskan bahwa sebagai orang tua, sudah seharusnya menggunakan perangkat pintar sebagai sarana mendidik dan menghibur anak-anak. Karena itu penting untuk memastikan bahwa konten, platform, dan pengguna lain yang mereka terlibat dan terhubung dengan anak, aman.

Sementara Yudhi Kukuh selaku IT Security Consultant PT Prosperita (ESET Indonesia) menambahkan, seperti kita ketahui bahwa penjahat dunia maya seringkali mengambil keuntungan dari keluguan anak, dari sifat mudah percaya anak untuk mendapatkan informasi pribadi atau finansial yang akan mengarahkan pada penipuan atau pencurian identitas.

“Anak-anak hanya tahu internet adalah entitas ajaib yang mampu menjawab semua pertanyaan dan keingintahuan mereka. Yang tidak mereka tahu adalah tentang virus atau malware, privasi online, phising, etika jejaring sosial dan masalah internet lainnya. Di sini orangtua punya kewajiban untuk hadir sebagai jembatan penghubung yang mangarahkan anak agar sampai di seberang dengan aman tanpa harus mengekang aktivitas anak, ” katanya.

Memantau aktivitas anak-anak kita secara online menurut Yudhi, sangat diperlukan. Terutama jika kita ingin mereka belajar dan aman secara online. Dan tak menutup kemungkinan, menjadi orang baru di internet bisa menjadi pengalaman yang memuaskan atau menakutkan bagi mereka.

“Karena itu penting untuk mengurangi risiko mereka menghadapi kejahatan siber dunia maya, dan juga untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan kebiasaan buruk seperti cyberbullying. Pada intinya, poin utama yang ingin ESET bangun pada anak-anak adalah agar mereka mampu mengembangkan kebiasaan dan etika yang baik secara online dan offline,” terang Yudhi.

Untuk melengkapi paparan ESET tentang pentingnya Parental Control dan kesadaran orangtua dalam melindungi anak, berikut beberapa tips yang dapat membantu orangtua:

  • Hindari memberikan kebebasan penggunaan perangkat pintar Anda kepada anak-anak, karena mereka mungkin belum tentu tahu cara memastikan keamanan situs web tempat mereka berselancar.
  • Parental Control harus menjadi pertimbangan utama jika orang tua ingin memberi anak-anak akses ke perangkat pintar mereka. Parental Control pada laptop sangat penting karena dirancang untuk memblokir situs web yang tidak pantas atau berbahaya.
  • Orangtua harus berusaha untuk membatasi aktivitas transaksi online yang dilakukan anak, terutama transaksi online dengan kartu kredit karena mereka mungkin secara tidak sengaja berbagi kredensial di situs yang tidak aman atau menerima begitu saja pengeluaran. (jm02)